Satu Malam Saja

Berikan satu malam untuk hatimu.
Berikan satu malam saja.
Biar dia mengadu tentang hidupnya.
Biar basah pipinya dengan air mata.
Biar sesak dadanya karena terisak.

Berikan satu malam untuk hatimu.
Berikan satu malam saja.
Biar dia mengeluh tentang waktu-waktunya.
Biar dia marah pada waktu yang terlewat.
Biar dia murka pada setumpuk dosanya.

Berikan satu malam untuk hatimu.
Berikan satu malam saja.
Biar dia bangun dari tidur lelap.
Biar dia tersadar dari mimpinya.
Biar dia tak tertidur lagi.

Berikan satu malam untuk hatimu.
Berikan satu malam saja.
Apakah terasa berat satu malam?
Dibanding dengan trilyunan malam yang Allah beri padamu?

[Noviani Gendaga, Samarinda]
Iklan

Secangkir Senja Untuk Sore #2 (ending)

Tiga bulan berlalu begitu saja. Meninggalkan jejak-jejak telapak kaki di padang pasir, Kairo. Terik membakar siapa saja yang tinggal di dalamnya. Kairo rasanya semakin panas dari tahun ke tahun. Namun kenangan indah di negeri Al-Azhar ini, seolah merekat tak mau pergi.

Arial sudah menyandang Master of Al-Qur’an dengan predikat mumtaz. Kini ia sedang mendalami ilmu tafsir Al-Qur’an yang tertinggal beberapa kali, sebelum ia terbang kembali ke tanah air. Baca lebih lanjut

Caramell di Sepertiga Malam

Suatu hari seorang ibu paruh baya bertanya pada putri semata wayangnya, Caramell.
“Nak, Ibu boleh tahu ingin jadi apa kamu ketika sudah dewasa kelak?”
Caramell tak kunjung menjawab. Namun senyumnya ia biarkan mengambang pada bibirnya yang mungil. Ia memandangi bola mata ibunya yang semakin redup dan teduh.
“Boleh, Bu.” Jawabnya kemudian. Ibunya memasang wajah ingin tahu. Lagi-lagi ibunya membuat putrinya mengembangkan senyum. Baca lebih lanjut

Secangkir Senja Untuk Sore

Karya: Noviani Gendaga

            Arial menepi. Ban sepeda motornya tak sengaja mencium beberapa butir paku yang sengaja ditebar oleh tukang tambal ban ‘nakal’ di pinggir jalan. Mahesya mendengus di belakang pundaknya yang bidang.

“Kenapa harus kempes segala sih bannya?! Aku bisa telat nih!” Mahesya menggelung rambut emasnya, hingga tak bersentuhan dengan leher mulusnya.

“Maaf ya, Sayang… Aku juga tidak tahu kalau akan begini jadinya…” Arial memelas pada kekasihnya itu.

“Aku kan sudah bilang, jangan pakai motor kolot begini! Asapnya kemana-mana, bikin polusi, bikin rusak kulit! Kenapa sih kamu selalu enggak mau dengarin aku?!”

“Memangnya kalau pakai mobil bannya bisa berubah jadi enggak kempes? Sama aja kan? Maafkan aku, Mahesya…” Arial berusaha memberikan pemahaman kepada Mahesya. Satu-satunya wanita ter-egois yang pernah ia temui. Namun Arial tetap mencintainya. Baca lebih lanjut

Kisah Tentang Hujan

Kita tak dapat menghitung jutaan tetesnya. Namun kita bisa mengindera keberadannya. Entah melewati suara airnya yang meghantam bumi, atau aroma tanah yang menyeruak bersatu mengisi ruang-ruang udara. Atau, indera penglihat langsung menerkanya tanpa teka-teki. Kedua mata langsung menyaksikannya dengan aneka cahaya yang berpendar di dalamnya.

Bak air bah yang tumpah dari awan-awan kelabu di atas sana, hujan menyimpan banyak kenangan di dalamnya. Sedikit intermezo: 

Baca lebih lanjut